2/04/2010

Keliru Taksir NIlai.

Dalam berbisnis, kerugian bisa timbul akibat keliru menaksir bobot nilai suatu produk baru. Tragedi kekeliruan taksir di tahap perencanaan produk itu terutama sering terjadi di dunia bisnis kesenian dan hiburan.

Redaksi media Examiner di San Fransisco, pada tahun 1889 menolak sebuah manuskrip naskah kiriman seorang penulis muda tak dikenal bernama Rudyard Kipling, disertai komentar: "Naskah initidak layak dibaca warga San Fransisco dengan kadar kecerdasan wajar-wajar saja!" Namun, pemuda yang sama  malah nekat melamar menjadi reporter media yang sama. Tak lama kemudian dia dipecat dengan alasan: "Anda tidak becus menulis dan disini bukan taman kanak kanak bagi penulis amatiran terbelakang!".
Delapan belsa tahun kemudian, terpaksa redaksi Examiner menyesali penolakan itu sebagai suatu kerugian tiada tara, ketika menerima berita bahwa penulis amatiran terbelakang yang pernah mereka PHK itu ternyata memperoleh anugrah penghargaan Nobel untuk kesusteraan . Suatu lambang kehormatan supremasi karya dengan nilai tak bisa dihitung dengan Uang belaka.

Pada bulan Juni 1938, edisi pertama Action Comics memperkenalkan tokoh Superman. Kedua pencipta tokoh manusia supersakti mandraguna itu - Joe Shuster dan Jerry Siegel - tidak terlalu optimis atas keunggulan mutu produk ciptaan mereka sendiri, maka langsung menjual hak cipta Superman kepada penerbit dengan harga $130 saja. Suatu penjualan hak cipta yang pasti tidak akan dilakukan Joe dan Jerry. Andaikata saja dahulu itu mereka sudah tahu betapa populer produk Superman di masa kini, bukan hanya di dunia komik, namun  juga tersebar subur merambah ke industri film dan televisi, plus aneka ragam merchandising dengan omset milyaran USD.

Seorang pemuda keturunan Italia sibuk menawarkan naskah film berkisah tentang seorang petinju bayaran kelas jalanan yang memperoleh kesempatan bertarung melawan sang juara dunia resmi, ke berbagai produser film, namun selalu di tolak akibat dianggap mengada ada, kisah tak masuk akal; masih diperparah lagi dengan hasrat sang pemuda menjadi pemeran utama, pdahal lafal bicaranya saja kurang jelas, disamping ia eks aktor bluefilm. Setelah naskah film yang babak belur ditolak sana sini, akhirnya diproduksi dengan anggaran rendah, lalu menang Oscar dalam kategori Film terbaik, Sutradara terbaik, sekaligus Editing terbaik, sambil melngitkan nama sang pemuda ke jenjang bintang film termahal, dapat di bayangkan betapa menyesal para produser yang terlanjur menolak tawaran Sylverster Stallone untuk memproduksi Rocky, yang begitu sukses hingga perlu disusul dengan tak kurang dari empat sekuel itu.

Seorang produsen musik bernama Sam Philips dan Memphis, AS, pada tahun 1955 menjual seluruh hak eksekutif kontraknya dengan seorang biduan muda lokal kepada RCA Victor Records, karean menganggap musikus muda itu kurang bermutu komersial. Apalagi ia sering tampil dengan iringan gitar yang di masa itu dianggap sudah termasuk kategori usang, alias ketinggala jaman. Dapat di bayangkan betapa menyesalnya Sam di kemudian hari, setelah terbukti hasil penjualan rekaman lagu-lagu oleh pemuisk "ketingalan jaman dan kurang bermutu komersial" itu kemudian mampu malampui satu milliar piringan hitam, hingga di nobatkan sebagai pemuisk legendaris paling laris, sepanjang zaman, yang juga tampil sukses luar biasa sebagai bintang film. Musikus muda itu tidak lain adalah The King, Elvis Presley sendiri. ! 

banyak yang unik, bermanfaat dan original , hanya ada di BlackAntzz !!

0 Komentar:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan pesan, Jangan pake SPAM ya!!! terima kasih !!

 

Term of Use

Beberapa artikel dan postingan yang ada disini murni hasil tulisan tangan dari saya, pembaca dapat menggunakan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber artikel.

Download Chrome

Use Chrome, Better browser!

Popular Posts