2/21/2010

Berburu Pahala di Kampus

Banyak hal sepele atau hal kecil yang sering terabaikan di kampus. Padahal hal sepele itu justru merupakan "cermin" profesionalisme dalam bekerja. Bahkan berpahala. Bekerja adalah sebagai salah satu bentuk ibadah. Suatu bentuk aktivitas sekecil apapun jika didasari keikhlasan dan dilakukan dengan cara yang benar adalah ibadah. Dimana kita sangat dianjurkan melakukan upgrading ibadah dan amal kebaikan. Kata Aa' Gym : "Mulailah dari yang kecil, mulailah dari diri sendiri dan mulailah dari sekarang"


Membuang puntung rokok pada tempatnya, membuang bungkus permen di tempatnya atau memasukkannya ke dalam saku untuk sementara waktu untuk dibuang ketempat semestinya, mematikan lampu kamar mandi jika sudah tidak dipakai, mematikan kran air jika sudah selesai pakai, menyiram sampai bersih dan tidak berbau setelah BAB dan BAK, adalah sederet hal sepele yang merupakan ibadah, mendatangkan pahala dari Allah dan akan meningkatkan goodwill lembaga. Sepertinya, sense of belonging masih menjadi PR hampir disetiap kampus.

Budaya senyum, salam, sapa, sopan dan santun (5S), semestinya menjadi perhatian utama dalam mewujudkan kenyamanan bekerja. Saling menghormati, saling menghargai dan saling menyayangi. InsyaAllah hal ini akan berdampak kepada peningkatan produktifitas kerja. Visi dan Misi perusahan akan terealisasi dengan baik

Budaya disiplin, disiplin waktu, disiplin berpenampilan, disiplin berbicara, disiplin administrasi, dan disiplin-disiplin yang lainnya masih perlu diupgrade lagi. Coba kita lihat rapor kedisiplinan kita. Berapa kali kita terlambat dalam sebulan? Berapa kali kita tidak masuk kerja dalam sebulan? Mudah-mudahan jawabannya tidak pernah. Alhamdulillah. Marilah kita jujur dengan segenap kejernihan hati dan pandangan positif untuk introspeksi diri. Hanya dengan loyalitas, komitmen dan dedikasi yang tinggi semoga pertanyaan diatas terjawab

Terkadang tidak sadar bahwa ucapan kita menganggu rekan kerja yang yang sedang serius bekerja. Kata bijak mengatakan : "Mulutmu harimau mu". Dalam hal ini Rosulullah SAW pun mengingatkan bahwa : "Selamatlah manusia jika dia mampu menjaga lisannya". Begitu pentingnya lisan ini. Jangan sampai hati rekan kerja terluka karena lisan kita, omongan kita yang sengaja ataupun tidak sengaja. Mungkin juga dalam canda ria kita. Kepekaan, empati dan simpati dengan rekan kerja akan tumbuh dengan sendirinya jika kita latih. Karena dengan latihan itu akan membentuk good habit.

Keteladanan dari Pimpinan juga menjadi hal yang sangat urgen untuk diperhatikan. Pimpinan adalah panutan. Satunya kata dan perbuatan, satunya sikap dan norma serta aturan akan menjadi trigger profesionalisme. Profesionalisme itu sendiri akan menjadi trigger keberhasilan terwujudnya Visi dan Misi lembaga. Slogan dan moto yang terpasang rapi dan indah dipigora ruang kelas akan lebih indah jika terimplementasikan di dalam kehidupan kampus. Keteladanan pimpinan akan membawa dampak positif yang luar biasa kepada bawahan. Penyakit NATO (No Action Talk Only) tidak akan menjangkiti kita semua, baik pimpinan maupun bawahan jika ada komitmen dalam diri untuk selalu berbuat yang terbaik bagi diri dan orang lain.

Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi "cermin diri" untuk evaluasi dan introspeksi. Kejernihan hati, kebersihan fikiran, positive thinking, husnudzon, obyektif adalah kaca mata yang tepat untuk melihat diri kita sendiri. Semoga Allah Swt selalu memberikan yang terbaik kepada diri kita, keluarga dan kampus kita tercinta. Amin.

0 Komentar:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan pesan, Jangan pake SPAM ya!!! terima kasih !!

 

Term of Use

Beberapa artikel dan postingan yang ada disini murni hasil tulisan tangan dari saya, pembaca dapat menggunakan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber artikel.

Download Chrome

Use Chrome, Better browser!

Popular Posts