2/10/2010

Kenapa Hanya bisa Meniru ?

Entah apa karena malas, atau memang tidak mau susah. Banyak sekeliling kita yang sudah tidak mau lagi berusaha payah untuk membuat sesuatu. Saya sendiri bingung, kalau di telusuri, tidak ada alasan kuat kenapa tidak membuat "made in" sendiri. Senangnya meniru dan tidak mau kalah. Padahal semua itu bertujuan untuk membuat manusia semakin kreatif dan mampu membuat sesuatu yang baru.

Saya jadi teringat, tentang pengalaman saya di tempat tinggal saya di Bogor. Namanya Bpk. Sukar, seperti namanya, bapak - bapak yang satu ini sukar untuk melihat orang lain "bagus" atau "indah". Ketika suatu saat, tetangganya bpk. Murdi mempunyai hiasan menarik di depan rumahnya, bpk. Sukar mulai jengah, panik tidak karuan. Bukannya senang melihat tetangga kreatif, tapi malah sibuk untuk meniru. Jika kamu ada di tempat dan melihat raut muka beliau, pasti kamu akan terpingkal.

Dia tidak habis pikir, mengapa Dia bisa memperindah rumahnya sedangkan rumah saya masih jelek. Dia tidak memikirkan, Bagaimana menghargai karya orang lain tanpa harus meniru/mencoteknya. 
Sudah menjadi kebiasaan bpk. Sukar untuk meniru, dia tidak mau halaman rumahnya jelek. Mungkin karena dia takut kena semprot istrinya yang tukang gosip itu.

Bpk Sukar bukannya satu di dunia ini, yang jengah , dan ingin sekali benda yang nampak di matanya itu, menjadi miliknya atau minimal ada juga di halaman rumahnya. Mestinya kita dapat berfikir, akan nilai menghargai karya orang lain, bukannya repot dan panik ketika melihat "punya" orang lebih bagus dari milik kita.

Jika kita mempunyai keinginan untuk memiliki yang orang lain itu miliki, kenapa kita tidak mempelajarinya ? Toh, orang lain yang kita lihat itu pun pasti belajar terlebih dahulu sebelum menempatkan hasil karya nya di halaman rumahnya. Bukan kebiasaan baik untuk seorang mahasiswa khususnya , jika hanya bisa syirik dan panik ketika melihat karya oranglain lebih bagus di tampilkan dihalaman rumahnya.

Semoga ini bisa menyentil telinga kawan kawan yang masih mempunyai kebiasaan seperti bpk Sukar yang selalu ingin memiliki apa yang orang lain punya.

banyak yang unik, menarik dan original , hanya di blackantzz.
Read More ..

2/08/2010

Kecil itu penting.



Ungkapan "kecil itu indah" barangkali akan lebih berguna bila ditambahi "kecil itu penting". Peribahasa mengatakan, langkah besar selalu diawali dengan langkah kecil. Sebaliknya, malapetaka dahsyat pun tak jarang dikarenakan kelalaian kecil. Tak percaya ? Beberapa tahun yang lalu, koran The WallStreet Journal pernah mengisakan pelajaran berharga bagaimana sikap menyepelekan hal kecil bisa-bisa mendatangkan kerugian besar.

Seorang mekanik yang sedang bekerja di bawah sebuah pesawat. menemukan lubang kecil di WC penemupang di bagian depan. Namun, ia lebih mengedapankan perbaikan pada peralatan canggih di bagian mesin utama yang menyebapkan tertundanya jadwal penerbangan pesawat. Ia beranggapan, perbaikan kebocoran kecil itu toh nanti biasa di lakukan setelah pesawat mendarat di bandara berikutnya.

Pesawat pun lepas landa. Apa yang terjadi? Bocoran air dari kamar mandi itu terus menetes. nah, karena suhu diluar pesawat amat dingin, teteaan iar itu menjadi sebongkah batu es. Di tengah kecepatan laju pesawat 650 mil/jam, bongkahan es itu lepas dari badan pesawat dan menghantam mesin. Akibatnya sungguh luar biasa. Bongkajhan es itu merusak dan merobek badan pesawat.

Kali ini pesawat terapksa mendarat darudat di bandara terdekat. Petugas pemeriksa menemukan bahwa bagian yang ternayat menghindarkan pesawat dari malapetaka yang lebih dahsyat adalah sebuah ring pentutp dari karet. Bayangkan, lantaran mengabaikan hal kecil, nyawa sekitar 100 orang dipertaruhkan dan mesin seharag 1 juta dollar rusak.
Read More ..

2/06/2010

Diskusi bukan debat kusir


Banyak orang paham bahasa bahwa diskusiadalah tradisi yang baik dan patutdi kembangkan. Socrates bahkan menemukan kebijaksanaan dengan berdiskusi dan berdialog setiap waktu. Siapapun yang berdialog dengannya dipaksa menggunakan logika dan akal sehat.

Sayangnya, ajang adu argumen ini sering menjadi arena debat kusir. Suasanan menjadi panas dan tidak nyaman. Nah, agar hal tiu tidak terjadi, ada beberapa kiat berdiskusi :
# Tentukan tema atau ketahuilah topik yang akan didiskusikan. Dengan menentukan atau mengetahui pokok pembicaraan maka kita daoat mempersiapkan segala sesuatunya.
# Batasi perserta diskusi dengan hanya menyertakan orang-orang yang berkompeten. Pembatasan ini dikalkukan untuk menajamkan persoala, menghemat waktu, dan menghindari pertanyaan atau usulan yang tidak relevan.
# Agendakan atau alokasikan waktu dengan efektif dan efesien.
# Bila dirasa perlu hadirkan moderator atau narasumber.
# Bekali diri anda dengan kemampuan logika, seni berbicara, dan literatur pendukung.
# Niatkan berdiskusi untuk mendapatkan kebenaran, bukan kemenangan.

Kalau itu di jalankan, niscaya diskusi bisa menjadi sangat produktif dan perbedaan pendapat akan menjadi ketegangan yang kreatif.

Banyak hal yang menarik, unik, dan original, Semua bermanfaat untuk anda. Kunjungi http://blackantzz.blogspot.com
Read More ..

2/04/2010

Keliru Taksir NIlai.

Dalam berbisnis, kerugian bisa timbul akibat keliru menaksir bobot nilai suatu produk baru. Tragedi kekeliruan taksir di tahap perencanaan produk itu terutama sering terjadi di dunia bisnis kesenian dan hiburan.

Redaksi media Examiner di San Fransisco, pada tahun 1889 menolak sebuah manuskrip naskah kiriman seorang penulis muda tak dikenal bernama Rudyard Kipling, disertai komentar: "Naskah initidak layak dibaca warga San Fransisco dengan kadar kecerdasan wajar-wajar saja!" Namun, pemuda yang sama  malah nekat melamar menjadi reporter media yang sama. Tak lama kemudian dia dipecat dengan alasan: "Anda tidak becus menulis dan disini bukan taman kanak kanak bagi penulis amatiran terbelakang!".
Delapan belsa tahun kemudian, terpaksa redaksi Examiner menyesali penolakan itu sebagai suatu kerugian tiada tara, ketika menerima berita bahwa penulis amatiran terbelakang yang pernah mereka PHK itu ternyata memperoleh anugrah penghargaan Nobel untuk kesusteraan . Suatu lambang kehormatan supremasi karya dengan nilai tak bisa dihitung dengan Uang belaka.

Pada bulan Juni 1938, edisi pertama Action Comics memperkenalkan tokoh Superman. Kedua pencipta tokoh manusia supersakti mandraguna itu - Joe Shuster dan Jerry Siegel - tidak terlalu optimis atas keunggulan mutu produk ciptaan mereka sendiri, maka langsung menjual hak cipta Superman kepada penerbit dengan harga $130 saja. Suatu penjualan hak cipta yang pasti tidak akan dilakukan Joe dan Jerry. Andaikata saja dahulu itu mereka sudah tahu betapa populer produk Superman di masa kini, bukan hanya di dunia komik, namun  juga tersebar subur merambah ke industri film dan televisi, plus aneka ragam merchandising dengan omset milyaran USD.

Seorang pemuda keturunan Italia sibuk menawarkan naskah film berkisah tentang seorang petinju bayaran kelas jalanan yang memperoleh kesempatan bertarung melawan sang juara dunia resmi, ke berbagai produser film, namun selalu di tolak akibat dianggap mengada ada, kisah tak masuk akal; masih diperparah lagi dengan hasrat sang pemuda menjadi pemeran utama, pdahal lafal bicaranya saja kurang jelas, disamping ia eks aktor bluefilm. Setelah naskah film yang babak belur ditolak sana sini, akhirnya diproduksi dengan anggaran rendah, lalu menang Oscar dalam kategori Film terbaik, Sutradara terbaik, sekaligus Editing terbaik, sambil melngitkan nama sang pemuda ke jenjang bintang film termahal, dapat di bayangkan betapa menyesal para produser yang terlanjur menolak tawaran Sylverster Stallone untuk memproduksi Rocky, yang begitu sukses hingga perlu disusul dengan tak kurang dari empat sekuel itu.

Seorang produsen musik bernama Sam Philips dan Memphis, AS, pada tahun 1955 menjual seluruh hak eksekutif kontraknya dengan seorang biduan muda lokal kepada RCA Victor Records, karean menganggap musikus muda itu kurang bermutu komersial. Apalagi ia sering tampil dengan iringan gitar yang di masa itu dianggap sudah termasuk kategori usang, alias ketinggala jaman. Dapat di bayangkan betapa menyesalnya Sam di kemudian hari, setelah terbukti hasil penjualan rekaman lagu-lagu oleh pemuisk "ketingalan jaman dan kurang bermutu komersial" itu kemudian mampu malampui satu milliar piringan hitam, hingga di nobatkan sebagai pemuisk legendaris paling laris, sepanjang zaman, yang juga tampil sukses luar biasa sebagai bintang film. Musikus muda itu tidak lain adalah The King, Elvis Presley sendiri. ! 

banyak yang unik, bermanfaat dan original , hanya ada di BlackAntzz !!
Read More ..

2/02/2010

Asal Mula Koran

Koran tulisan tangan

Sejak kapan manusia mengenal koran? Dari catatan peneliti, oran pertama masih berupa lembaran berita yang ditulis tangan, dipasang di tempat umum. Acta Diurna dari masa Romawi kuno (59 SM), berisi berita sosial dan politik, di akui sebagai koran pertama di dunia. Sedangkan koran cetak pertama adalah Di Bao (Ti-pao) tahun 700an di CIna. Metode Pencetakannya menggunakan balok kayu, yang dipahat aksara cina.

Bentuk koran berikutnya masih amat sederhana: Newsletter dan buku berita, di tahun 1400an. Beritanya kebih banyak berkaitan dengan dunia bisnis para bankir dan pedangang eropa.  Selanjutnya, newsletter dan bukui berita berkembang menjadi lembar berita/newsheet tahun 1500an. Notizie Scritte (pemberitahuan tertulis) yang terbit di Venesia, Italia. termasuk jeis lembar berita itu. "Koran" lembaran ini biasanya dipasang di banyak tempat umum, tetapi yang ingin membacanya harus membayar 1 gazzeta. Dari sanalah mucum istilah gazzeta yang menunjuk koran.

Terbitnya koran-koran di Eropa di awali dengan temuan mesin cetak Johann Gutenberg pada pertengahan abad XV yang memudahkan proses produksi. Awalnya lembar berita yang terbit tidak teratur dan memuat cuma satu peristiwa, kemudian berwvolusi dengan terbit teratur seperti yang dilakukan mingguan Avisa Relation oder Zeitung, sejak 1609 di Strasbourg, jerman. Rupanya awab XVII menjadi abad penting lahirnya banyak koran di Eropa. Tapi, mingguan Frankfurter Journal (1615) yang dikelola Egenolph Emmel di Frankfrut, Jerman, umum dipandang sebagai koran pertama di dunia. Sampai kemudian lahir Leipziger Zeitung (1660) uga di Jerman, yang mula-mula mingguan, kemudai menjadi harian, Inilah koran harian pertama di dunia.

Tak lama kemuduan Inggris menyusul,diawali oleh The London Gazette (1665) yang masih koran berkala.Inggris mengenal  koran hariannya yang pertama dengan terbitnya The London Daily Courant (1702). The Times koran Inggris-yang terbit sejak abad XVII hingga kini-pertama kali memakai sistem cetak rotasi.Penemuan telegram dan jaringan kabel internasional di pertengahan 1800-an membuat wartawan bisa lebih cepat meliputi dari berbagai kawasan dunia.

Di Indonesia, koran sudah ada sejak tahu 1744,saat pemerintahan Gubjen. Van Imhoff,yaitu Bataviasche Nouvelles.Sayang umurnya cuma dua tahun. pada 1776, di jakarta terbit Vendu Nieus,yang memuat segala macam barang lelangan,mulai perabotan rumah tangga hingga budak.Mingguan ini berhenti terbit karena Gubjen. Daendeles mengambil alih percetakan.

Deandels kemudian menerbitkan Bataviascche Koloniale Courant (1810) yang juga berumur pendek, kaena Belanda harus menyingkir  demi Inggris, Inggris pun melihat perlunya koran, sehingga lahirnlah Java Government Gazette, sebagai corong pemerintah. Saat Belanda kembali berkuasa, koran itu diubah jadi Bataviasche Courant (1816), lalu Javasche Courant (1827). Tahun 1942, Belanda menyingkir karena Jepang datang. Koran yang sama di ambilalih pemerintah baru yang mengubahnya menjadi Ken Po, artinya berita pemerintah.

Bagaimana dengan pemrakarsa swasta? Tahun 1849 datang wartawan Belanda, W. Bruining, yang dua tahun kemudian berhasil menerbitkan Batavia Advertentieblad. Selain Jakarta, di kota lain - Surabaya, Semarang, Pasuruan, Padang, Medan, Palembang dan Makassar - juga terbit koran.

Tapi sejak kapan pribumi Indonesia punya koran sendiri? Tahun 1854 di Weltevreden (Gambir), Jakarta, muncul majalah Bianglala dari pihak Zanding, Mingguan bahasa Jawa Bromartani terbit pertama tahun 29 Maret 1855. entah kenapa, Van der Muelen dalam de Courant Stijhoff (Leiden 1885), menyebut prakarsa itu baru munvul tahun 1856, ketika terbit Soerat Kabar Bahasa Melajoe di Surabaya. Sejak itu banyak terbit koran Melayu, yang masih dikelola oleh orang belanda asli atau peranakan.

Tahun 1904 pers Indoensia bangkit, saat raden Mas Djokomono dengan akte notaris Simon Mendirikan NV Javaansche Boekhandel & Drukkerij en handel in Schrijfbehoeften Medan Prijaji di Bandung, diikuti dengan terbitnya mingguan Medan Prijaji (1907), yang pada 1910 menjadi harian. Saat itu untuk pertama kali bangsa Indonesia punya koran sendiri.

Banyak yang unik, bermanfaat dan original, hanya di Blackantzz , jika anda hendak mengutip artikel ini, silahkan menyertakan link artikel ini.
Read More ..
 

Term of Use

Beberapa artikel dan postingan yang ada disini murni hasil tulisan tangan dari saya, pembaca dapat menggunakan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber artikel.

Download Chrome

Copyright © 2016 - BlackAntzz is powered by Rhatomi.com - All rights reserved